ASOHI JATENG GELAR SEMINAR ANTISIPASI WABAH VIRUS ASF PDF Print E-mail
Written by sekretariat   
Friday, 01 November 2019 11:21
UNGARAN, Sabtu 12 Oktober 2019. Isu penyebaran virus ASF (African Swine Fever) mulai meresahkan peternak babi, menyusul telah terjadinya (suspect) ASF di Myanmar, Filipina dan Timor Leste September 2019. Asosisasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Jawa Tengah bekerjasama dengan SmartPoint, Dreamlight World Media dan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Jateng I menyelengarakan seminar Strategi Antisipasi Penyebaran Virus ASF dan bagaimana strategi pemerintah Indonesia dalam mengantisipasi ASF.
 
Hadir sebagai narasumber pada seminar di Studio Dreamlight World Media itu, Dr drh Tri Satya Putri Naipospos Mphil PdD (Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan), Dr Sauland Sinaga (Ketua AMI Asosiasi Monogastrik Indonesia) dan Arief Wicaksono (Kementerian Pertanian).
 
Dr Sauland Sinaga mengatakan, upaya pemerintah cukup keras untuk mengantisipasi penyebaran virus ASF. Dengan diterbitkannya surat edaran oleh Kementerian Pertanian kapada semua gubernur, maka gubernur punya hak untuk menerbitkan peraturan, jika ASF memang telah membahayakan perekonomian suatu daerah.
 
"Yang jelas negara sangat menjamin kehidupan peternak babi dengan sangat nyaman dan tidak  menganaktirikan mereka. Tapi tentunya pemerintah meminta para peternak untuk lebih jujur dan terbuka mengenai kondisi hewan mereka. Jika terjadi sesuatu (penyakit) agar lebih terbuka lagi," kata Sauland Sinaga.
 
Menurut Dr drh Tri Satya Putri Naipospos, virus ASF hanya menyerang babi. "Kenapa Afrika, karena pertama kali ditemukan di Kenya pada tahun 1921. Belum ditemukan obat dan vaksinnya untuk ASF, tapi tidak menimbulkan efek infeksi ada manusia, kecuali akan mengganggu stabilitas perekonomian," kata dia.
 
Di Indonesia populasi babi paling banyak ada di NTT, disusul Sumatera Utara, Papua, Sulawesi Selatan, Bali, Kalimantan Barat, Kepulauan Riau, Sulawesi Tengah dan Jawa Tengah. Meski konsumen babi hanya sekitar sembilan persen dari total penduduk Indonesia, tapi di luar Jawa, babi berguna untuk perlengkapan acara-acara adat.
 
Dr Arief Wicaksono menyayangkan, selama ini masih banyak peternak babi yang tertutup, sehingga menyulitkan pemerintah atau dinas terkait untuk pemantauan adanya AFS. "Jadi begitu ada suspect atau gejala sakit apa saja, langsung dilaporkan saja, agar ada penanganan segera," tutup dia.
 
Kabid Veteriner Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Jawa Tengah drh Abdullah menambahkan, "Karena apapun, Jateng salah satu penyangga kebutuhan daging babi untuk provinsi yang lain. Maka posisi ini harus dipertahankan untuk kesejahteraan warga di Jateng."
 
"Untuk antisipasi ASF, maka dilakukan biosekuriti, yaitu melalui isolasi/pemisahan, sanitasi, pengandalian lalulintas, pengendalian hama, dan pembuangan bangkai babi," imbuhnya lagi. Seminar dihadiri oleh para dokter hewan, peternak dan produsen obat hewan. (WK)
 

Ruang Iklan

Kurs IDR

Kurs Jual Beli
sumber: KlikBCA.com

Sentra Download ASOHI

Calculator

more...

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday99
mod_vvisit_counterYesterday365
mod_vvisit_counterThis week1337
mod_vvisit_counterThis month4075
mod_vvisit_counterAll2020270