ASOHI LAMPUNG DORONG PELAKU UNIT USAHA PANGAN ASAL HEWAN MILIKI NKV PDF Print E-mail
Written by sekretariat   
Thursday, 07 November 2019 16:48
LAMPUNG, Kamis 29-30 Oktober 2019. ASOHI Lampung bekerjasama dengan Pinsar Petelur Nasional (PPN) dengan didukung Dinas Perkebunan dan Peternakan Propinsi Lampung dan Dinas Pertanian Kabupaten Pringsewu melalui bidang peternakan, kini tengah berupaya mendorong unit usaha pangan asal hewan teregristasi serta memiliki Nomor Kontrol Veteriner (NKV). 
 
NKV merupakan salah satu sertifikasi jaminan atas kelayakan unit usaha pangan asal hewan yang sudah memenuhi higiene sanitasi (label aman untuk di konsumsi). Sertifikat tersebut merupakan bukti bahwa telur lokal telah memenuhi standar pangan nasional. Para peternak lokal juga bisa memperluas distribusi telur mereka ke seluruh wilayah Indonesia, bahkan ekspor ke luar negeri. Produk hewani yang telah mendapatkan NKV sebagai nomor registrasi unit usaha produk hewan artinya terjamin kebersihan, sanitasi, dan keamanan pangannya.
 
Sebagaimana dilaporkan Drh Akbar Rama Wijaya Sekretaris ASOHI Lampung, upaya meraih NKV ini diinisiasi oleh PPN dengan grup pendampingannya dari technical services obat hewan dibawah naungan ASOHI Daerah Lampung. Sementara tim auditor NKV berasal dari Dinas Perkebunan dan Peternakan Propinsi Lampung yang dipimpin Drh. Anwar Fuadi MPH dan tim. Serta Dinas Pertanian Kabupaten Pringsewu bidang peternakan. 
 
Audit eksternal NKV ini dilakukan di dua tempat yaitu pertama di Mulawarman Farm Pekon Tegalsari, Kec. Gadingrejo, Kab Pringsewu dan yang kedua di CV Bisco Farm di Desa Talang Jawa Kec. Merbau Mataram, Kab. Lampung Selatan. Menurut Kabid Peternakan pada Dinas Pertanian Kabupaten Pringsewu Drh. Budi Pramono, pendampingan dan pembinaan terhadap Mulawarman Farm di Pekon Tegalsari, Kecamatan Gadingrejo sudah lama dilakukan.
 
“Saat ini, peternakan Mulawarman sedang dalam verifikasi untuk kenaikan status dari level 3 ke level 2. Upaya ini kita lakukan dalam rangka berkontribusi pecahkan rekor MURI Indonesia atas nama Lampung,” ungkap Budi.
Menurut Budi, ada tiga level di tingkat budidaya untuk unit usaha pangan asal hewan yakni level 3 untuk skala kabupaten, level 2 skala antar propinsi dan level 1 untuk skala antar negara (ekspor). “Ini sesuai dengan Permentan No. 381/KPTS/OT.140/10/ 2005 tentang Pedoman Sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner Unit Usaha Pangan Asal Hewan. Kedepan, setiap unit usaha yang memproduksi dan menjual pangan asal hewan diwajibkan memiliki NKV ini,” tandas Budi.
 
Secara perlahan lanjut Budi, pihaknya akan terus berupaya mendorong para pelaku di bidang unit usaha dan industri-industri pengolahan asal hewan, bisa memiliki NKV. Sebab, NKV berlaku untuk seperti kios penjualan daging, RPH (rumah potong hewan), serta industri-industri pengolahan asal hewan seperti sosis, bakso, nugget, dan telur asin.
Ada banyak item sambung Budi sebuah unit usaha pangan asal hewan bisa mendapatkan sertifikat dan NKV. Salah satu pointnya seperti gudang sudah NKV adalah, dimana pegawainya yang sakit tidak boleh menangani pangan sehat, baik di kandang maupun di gudang.
 
“Seperti pada kandang harus ada area bebas (zona merah), area terbatas (zona kuning) dan area terlarang (zona hijau) dari orang dan pengunjung. Mulawarman Farm ini yang kedepan kita harapkan bisa menjadi pioneer bagi pelaku usaha sejenis mengurus dan memiliki NKV,” imbuh Budi. 
 
Menurut Drh Akbar Rama Wijaya dari hasil audit NKV di dua tempat yaitu di Mulawarman farm dan CV Bisco Farm keduanya telah terverifikasi naik status dari level 3 ke level 2. Sungguh perjuangan dan pendampingan peternak selama ini telah membuahkan hasil. Selamat! (WK)
 

Ruang Iklan

Kurs IDR

Kurs Jual Beli
sumber: KlikBCA.com

Sentra Download ASOHI

Calculator

more...

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday53
mod_vvisit_counterYesterday365
mod_vvisit_counterThis week1291
mod_vvisit_counterThis month4029
mod_vvisit_counterAll2020223