PDHI DESAK PEMERINTAH DEKLARASIKAN WABAH ASF PDF Print E-mail
Written by sekretariat   
Wednesday, 18 December 2019 15:16
JAKARTA, 5 Desember 2019. Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) mendesak pemerintah untuk segera mendeklarasikan bahwa wabah African Swine Fever (ASF) yang telah memasuki Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum PDHI, Drh H Muhammad Munawaroh MM, desakan tersebut berdasarkan kasus kematian babi pada sejumlah usaha peternakan di Sumatera Utara. 
 
Angka kematian babi terus bertambah sejak Agustus 2019 sampai awal Desember 2019 dan mencapai jumlah 20.500 ekor. Lalu, berdasarkan hasil laboratorium, dinyatakan kematian babi-babi tersebut positif disebabkan oleh ASF. 
 
"Untuk itu, kami dari PDHI ini sebenarnya ingin mendesak pemerintah untuk mendeklarasikan bahwa wabah ASF pada babi ini sudah memasuki Indonesia," kata Munawaroh dalam keterangan tertulisnya yang diterima Redaksi InfoASOHI. 
Munawaroh menuturkan, kemungkinan besar pemerintah tidak segera mengeluarkan deklarasi karena khawatir ekspor daging babi menjadi terganggu. Padahal, kata dia, ekspor daging babi terbesar adalah dari Pulau Bulan ke Singapura. Sementara, penyebaran virus ASF ini belum memasuki kawasan Pulau Bulan.
 
"Tetapi bukan berarti daerah lain akan aman dari ASF ini jika tidak segera dilakukan pencegahannya, karena selain cepat menyebar, virus ini juga tidak ada obatnya. Bahkan, pada kondisi terburuknya, penyebaran virus ASF tersebut juga akan bisa dirasakan oleh peternak di daerah luar Sumatera, seperti Manado, Gorontalo dan lain sebagainya, sehingga akan lebih merugikan dari sisi ekonomi,” jelas Munawaroh.
 
Dijelaskan Ketua Umum PDHI Drh Munawaroh, penyakit ASF merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus ASF dari genus Asfivirus dan famili Asfarviridae. "Penyakit ini berbeda dengan penyakit kolera babi atau hog cholera atau classical swine fever (CSF), yang disebabkan juga oleh virus, namun virusnya yang berbeda." 
 
Virus CSF dari genus Pestivirus dan famili Flaviviridae, tetapi kedua penyakit tersebut tidak dapat diobati dengan antibiotik karena bukan disebabkan oleh bakteri. Penyakit ASF menyerang hewan babi, baik domestik ataupun babi liar, dengan tingkat kematian tinggi pada babi yang terinfeksi.
 
"ASF ini terjangkit di hampir semua negara, dan juga termasuk virus yang sangat mudah dan cepat sekali penyebarannya," jelasnya.
 
Menurut Munawaroh, penyebaran yang terjadi di Sumatera Utara Indonesia sangat mungkin sekali disebabkan oleh seseorang yang datang ke sana membawa produk daging babi atau makanan babi yang sudah terinfeksi oleh virus ini. Namun, hingga saat ini, di Indonesia baru Sumatera Utara yang teridentifikasi terjadi penyebaran virus ASF ini.
Penularan virus ASF antar babi terjadi akibat kontak dengan babi yang sakit, serta kontak dengan cairan yang keluar dari babi sakit atau mati seperti air kencing, kotoran, air liur, dan darah. "Virus ASF menginfeksi babi melalui pernapasan dan mulut atau ingesti makanan atau minuman," kata dia.
 
Begitu juga dengan lewat kontak dengan manusia. Peralatan, pakaian, sepatu atau alas kaki, dan makanan yang tercemar virus dengan babi yang sakit atau mati dapat menularkan virus ASF ke babi lain. Selain itu, virus ASF ini dapat pula ditularkan melalui caplak dari genus Ornithodoros.
 
Namun, ditegaskan oleh Munawaroh juga bahwa penyakit ASF ini hanya menyerang atau menjadi penyakit pada babi saja, tidak pada hewan ternak lainnya dan juga manusia. (WK)

 

Ruang Iklan

Kurs IDR

Kurs Jual Beli
sumber: KlikBCA.com

Sentra Download ASOHI

Calculator

more...

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday2945
mod_vvisit_counterYesterday3067
mod_vvisit_counterThis week10775
mod_vvisit_counterThis month16660
mod_vvisit_counterAll2321467