AUDIENSI ASOHI SUMUT DENGAN BALAI VETERINER MEDAN PDF Print E-mail
Written by sekretariat   
Wednesday, 18 December 2019 15:47
MEDAN, Jumat 29 November 2019. Bertempat di Balai Veteriner Medan, sebanyak tujuh orang pengurus ASOHI Sumatera Utara mengunjungi Kantor Balai Veteriner Medan untuk beraudiensi dan bersilaturahmi. Rombongan dipimpin oleh Ketua ASOHI Sumut Drh. Efendi Azhar dan segenap pengurus lainnya yaitu Luthfi, Agus Daling, Jenro Sihombing, Hendra Kurniawan, Joko Pramono, dan Fadillah. 
 
Rombongan ASOHI Sumut diterima langsung oleh Kepala Balai Veteriner Medan Drh. H. Agustia, MP. Beberapa pokok diskusi pada kesempatan audiensi ini adalah terkait wabah kasus Hog Cholera dan suspect African Swine Fever (ASF) yang terjadi di wilayah Sumatera Utara. 
 
Menurut Agustia jumlah kematian babi di Sumatera Utara (Sumut) akibat hog cholera atau kolera babi mencapai 27.070 ekor di 16 kabupaten. Kematian babi sangat cepat, dalam satu hari angka kematian yang terlapor rata-rata 1.000 sampai 2.000 ekor babi.
 
Balai Veteriner Medan telah menyatakan babi yang mati terindikasi African Swine Fever (ASF). Namun, hingga saat ini Menteri Pertanian belum menegaskannya. 
 
"Iya, memang begitu cepat kematiannya di 16 kabupaten/kota di Sumut," kata Kepala Balai Veteriner Medan, Agustia. 
Virus hog cholera sudah pernah di-declare saat kematian ribuan babi di Sumut pada kurun waktu tahun 1993 hingga 1995. Kasusnya juga bermula dari Dairi, kemudian menyebar di beberapa kabupaten lainnya.
 
"Ini akan habis semua, karena pemain di case ini (hog cholera) ada, penyakit bakterial ada, ASF juga terindikasi. Lalu, apakah declare menunggu habis semua? Enggak, ini masih terus dibahas, sedang dicermati," ucapnya.
 
Agustia mengungkapkan, kematian 27.070 ekor babi ini merupakan 2,7 persen dari populasi babi di Sumut, yaitu 1.229.742 ekor. Kematian babi hanya terjadi di 16 kabupaten/kota, pihaknya berupaya agar tidak bertambah.
 
"Untuk menyatakan penyebab kematian babi akibat ASF memiliki dampak yang besar dan karenanya tidak bisa dikeluarkan serta merta," ungkapnya.
 
Menurut Agustia, keterlambatan declare membawa dampak buruk dan dampak baik. Dampak buruk, pihaknya di lapangan tidak memiliki kekuatan untuk pendekatan kepada berbagai pihak, misalnya dalam hal anggaran. 
 
"Dampak baiknya, sekarang bisa mengetahui case-nya di mana. Tapi harus di-declare itu statusnya apa ASF atau bukan," ujarnya.
 
Agustia menjelaskan, ketika sudah di-declare, yang harus dilakukan adalah bio security dimulai dari skala kandang. Sebab jika satu sudah terkena, maka satu kandang itu harus di culling atau dimusnahkan. Dengan catatan, yang di kandang tidak boleh keluar agar tidak menyebar.
 
"Kalau sudah di-declare, yang hidup harus dihabiskan. Tempat itu dilakukan pengosongan dari ternak babi bisa sekitar 2 sampai 3 bulan. Lalu diletakkan hewan sentinel untuk memastikan tidak ada lagi satu pun virus di situ," jelasnya. (WK)

 

Ruang Iklan

Kurs IDR

Kurs Jual Beli
sumber: KlikBCA.com

Sentra Download ASOHI

Calculator

more...

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday641
mod_vvisit_counterYesterday1956
mod_vvisit_counterThis week4816
mod_vvisit_counterThis month27614
mod_vvisit_counterAll2332420