Ternak Babi Ancam Kesehatan PDF Print E-mail
Dinas Kesehatan Kab. Kuningan menyatakan usaha peternakan babi di wilayah Cigugur tidak memenuhi syarat berdasarkan standar kesehatan lingkungan. Dengan demikian, hal tersebut bisa menimbulkan berbagai penyakit dan mengancam kesehatan warga sekitar.

Untuk memandikan babi dan membuang kotoran misalnya, selama ini hanya dilakukan dengan cara menyemprotkan air ke lantai kandang. Kemudian, air mengalir begitu saja ke luar kandang yang kemudian menyerap ke dalam tanah. Sedangkan kotorannya ditumput sembarangan, bahkan terkadang diambil untuk dibuat pupuk kandang.

"Kami telah meminta kepada seluruh peternak agar memperhatikan kebersihan kandang dan jangan sampai mencemari lingkungan," ungkap Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kab. Kuningan, drg. H. Kadaryanto, M.M., M.A.R.S., di ruang rapat Dinas Kesehatan Kuningan, Kamis (9/7).

Kasi Kesehatan Lingkungan Dinkes Kuningan, Beni Sudrajat, menjelaskan, berdasarkan hasil penelitiannya sampai akhir Mei 2009, peternakan babi di wilayah Kec. Cigugur terkosentrasi di tiga lokasi yakni Kel. Cigugur, Kel. Cileuleuy, dan Cisantana dengan populasi keseluruhan tercatat 4.343 ekor.

Di Blok Mayasih Cigugur terdapat 82 kandang dengan rata-rata 20-50 ekor per kandang. Bahkan, di Blok Pasir Cisantana ada yang dihuni 700 ekor dalam 1 kandang dan 1 kandang dikelola seorang petugas. Di Mayasih dan Cigugur, jarak kandang babi dengan permukiman penduduk sekitar dua ratus meter. Sedangkan di Cisantana, jarak kandang dengan permukiman pendudukan hanya empat puluh meter.

Begitu pula dengan pembuangan air limbah yang tidak sesuai aturan. Bahkan, di tempat pembuangan itu banyak lalat. Berdasarkan penelitian, setiap menitnya di lokasi pembuangan air limbah itu bisa mendatangkan lalat rata-rata dua puluh ekor. Dengan demikian, jelas sudah jika usaha ternak babi itu tidak memenuhi syarat standar kesehatan lingkungan.

Segera ditutup

Kadaryanto, mengakui usaha peternakan babi di Kab. Kuningan yang ditengarai sebagai sentra babi di Jawa Barat, telah menyebabkan warga setempat merasa gelisah. Apalagi setelah adanya terduga sejumlah warga Indonesia yang dinyatakan positif terserang virus flu babi yang dirawat di rumah sakit di Bali dan Jakarta.

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kab. Kuningan dan sejumlah aktivis peduli lingkungan mendesak kepada pemerintah daerah agar segera menutup dan menertibkan seluruh aktivitas peternakan babi yang terpusat di daerah Cigugur. Selain untuk mengantisipasi jatuhnya korban serangan flu babi, pembuangan limbahnya juga telah mencemari lingkungan sehingga rawan munculnya penyakit.

Sekretaris MUI Kab. Kuningan, Drs. K.H. Syarif Hidayatullah, M.A., MUI mendesak Pemkab Kuningan mengkaji lebih mendalam dari berbagai sektor. Bukan sekadar melihat pengaruh ekonominya, namun harus jeli melihat ke depan sesuai visi Kuningan yang ingin mejadikannya sebagai Kuningan Sehat.

Dengan demikian, menurut dia, jangan membiarkan peternakan babi di Kuningan terus bertambah.

Sumber: www.disnak.jabarprov.go.id
Last Updated on Wednesday, 15 July 2009 11:28
 

Ruang Iklan

Kurs IDR

Kurs Jual Beli
sumber: KlikBCA.com

Sentra Download ASOHI

Calculator

more...

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday279
mod_vvisit_counterYesterday159
mod_vvisit_counterThis week438
mod_vvisit_counterThis month4833
mod_vvisit_counterAll1922993