Mutasi Virus Flu Burung belum Terjadi PDF Print E-mail

Ketua Pelaksana Harian Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan menghadapi Pandemi Influenza, Bayu Krisnamurti mengatakan, mutasi virus flu burung (avian influenza) belum terjadi di Indonesia.

"Mudah-mudahan tidak akan terjadi, yang sudah terjadi adalah virus yang ditemukan di luar unggas seperti kucing, anjing dan babi di berbagai daerah, dan itu pun sudah ada sejak dua tahun lalu," katanya di sela simulasi respon flu burung di Yogyakarta, Rabu (25/2).

Dikatakannya, kejadian itu bukan mutasi virus flu burung karena bukan dari unggas, tetapi hewan lain. Ia mengatakan, jumlah kasus flu burung di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Meski demikian masyarakat harus tetap waspada terhadap penularan virus flu burung. Berdasarkan data sejak 2005 hingga 2009 total penderita flu burung 145 orang, 119 di antaranya meninggal.

Menurut Bayu, untuk periode Januari-Februari 2009 tercatat empat kasus flu burung yang semuanya meninggal. "Sebelumnya, pada periode sama 2007 tercatat sepuluh kasus, tujuh di antaranya meninggal dan pada 2008 dari 12 kasus, sepuluh di antaranya meninggal," katanya.

Ia mengatakan, sumber penularan terbanyak di pasar unggas hidup, yakni sekitar 80 persen, karena di lingkungan tersebut tidak bersih virus sehingga mudah menular. "Untuk mencegah hal itu di pasar unggas hidup relatif sulit," katanya.

Ia menambahkan, meski demikian pihaknya punya cara menekan penularan virus flu burung, misalnya satu hari dalam seminggu pasar dibersihkan dan diberi disinfektan. "Ada cara lain seperti tidak ada penjualan ungas hidup. Tetapi ini sulit dilakukan karena menyangkut orang banyak," katanya.

Dikatakannya, untuk jangka menengah itu mungkin bisa dilakukan. "Misalnya, di Jakarta sudah ada peraturan daerah (perda) soal itu, dan akan diberlakukan mulai 2010," ujarnya.

Bayu menjelaskan, untuk mempersiapkan sumber daya yang dapat merspon jika terjadi pandemi flu burung, pihaknya bekerja sama dengan UNICEF melakukan simulasi respon virus flu burung yang melibatkan berbagai instansi. "Mereka diharapkan dapat segera merespon dan cepat tanggap serta tidak panik jika menghadapi kejadian pandemi," katanya.

Selain itu pihaknya juga melakukan simulasi antarnegara agar mampu menangani penderita secara lintas negara.

Sementara itu, Kepala Perwakilan UNICEF Jawa Tengah - Daerah Istimewa Yogyakarta (Jateng-DIY), I Made Sutama mengatakan, UNICEF peduli terhadap kasus flu burung karena berdasarkan data yang ada korban terbanyak adalah wanita dan anak-anak yang angkanya mencapai 60 persen. "Masalah ini terkait dengan kondisi kesehatan ibu dan anak yang merupakan salah satu bidang yang menjadi fokus UNICEF," katanya.

Sumber: www.mediaindoensia.com

Last Updated on Thursday, 30 April 2009 13:57
 

Ruang Iklan

Kurs IDR

Kurs Jual Beli
sumber: KlikBCA.com

Sentra Download ASOHI

Calculator

more...

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday280
mod_vvisit_counterYesterday159
mod_vvisit_counterThis week439
mod_vvisit_counterThis month4834
mod_vvisit_counterAll1922994