KAPAL TERNAK SOLUSI PERLANCAR DISTRIBUSI SAPI LOKAL PDF Print E-mail
Written by sekretariat   
Thursday, 23 November 2017 13:15

JAKARTA, Senin 16 Oktober 2017. Kapal khusus angkutan ternak Camara Nusantara I (CN 1) merupakan salah satu wujud implementasi Tol Laut yang mengangkut ternak dari daerah sentra produsen ke daerah konsumen. Fini Murfiani selaku Direktur Pengolahan dan Pemasaran hasil Peternakan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian menyampaikan, keberadaan kapal ternak bertujuan untuk mendukung program pemenuhan pangan asal ternak, dan menjamin kelangsungan pendistribusian ternak melalui angkutan laut dengan kaidah animal welfare dari Provinsi NTT sampai ke DKI Jakarta dan sekitarnya.

"Dengan adanya kapal ternak ternak ini kita harapkan distribusi daging sapi melalui angkutan laut lancar dan cepat," kata Fini Murfiani pada acara diskusi terbatas yang diselenggarakan oleh Harian Bisnis Indonesia di Ballroom Emerald Red Top Pecenongan Jakarta, Senin 16 Oktober 2017.

Keberadaan kapal ternak menurut Fini Murfiani merupakan tindaklanjut dari rekomendasi Badan Litbang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK, 2012) yang menyatakan bahwa distribusi dan tataniaga sapi belum berjalan dengan baik dari daerah sentra produksi ke daerah konsumen. Panjangnya rantai tata niaga ternak tersebut berdampak terhadap farm share (keuntungan) yang diterima peternak kecil.

Biaya distribusi ternak dari daerah produsen ke daerah konsumen sangat tinggi terutama perdagangan antar pulau. Selain itu juga belum terintegrasinya antara kegiatan produksi dengan kegiatan pasca panen dan pemasaran seperti pasar ternak, Rumah Potong Hewan (RPH), pasar ritel dan industri pengolahan dengan peternak/gapoktan/koperasi peternak dalam suatu sistem supply chain management yang baik.

Fini Murfiani menjelaskan, distribusi sapi potong dari daerah sumber ternak ke wilayah Jabodetabek umumnya menggunakan kapal kargo dan dilanjutkan dengan angkutan truk yang membutuhkan waktu cukup lama. Menurutnya, kondisi pengangkutan hewan ternak dengan menggunakan kapal kargo penanganannya belum maksimal, sehingga hewan ternak yang diangkut mengalami penyusutan bobot cukup besar umumnya mencapai 15-22%. Untuk meningkatkan bobot sapi diperlukan recovery/pemulihan, sehingga menambah biaya pengeluaran yang harus ditanggung pedagang dan akhirnya sebagai kompensasinya harga ikut dibebankan kepada konsumen.

Menurut Fini Murfiani, setiap pelayaran CN1 mampu mengangkut ternak sebanyak 500 ekor dan di tahun 2017 pada pelayaran ke-15 tanggal 2 Oktober 2017 telah mengangkut ternak sebanyak 7.500 ekor. "Animo pemanfaatan kapal cukup tinggi, sehingga jumlah 1 unit kapal yang sudah ada dirasakan kurang, hal ini terlihat dari 66.300 ekor target kuota pengeluaran ternak sapi dari NTT tahun 2017, Kapal ternak CN 1 hanya dapat mengangkut 12.000 ekor atau 18%," kata Fini Murfiani. (WK)

 

Ruang Iklan

Kurs IDR

Kurs Jual Beli
sumber: KlikBCA.com

Sentra Download ASOHI

Calculator

more...

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1072
mod_vvisit_counterYesterday1638
mod_vvisit_counterThis week8465
mod_vvisit_counterThis month22162
mod_vvisit_counterAll1816373