RENCANA IMPOR DAGING KERBAU DITENTANG PPSKI PDF Print E-mail
Written by sekretariat   
Tuesday, 30 January 2018 15:17

JAKARTA, Senin 22 Januari 2018. Rencana pemerintah untuk mengimpor kembali daging kerbau asal India pada 2018 ini sebanyak 100 ribu ton mendapat tentangan dari Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI).

Menurut Teguh Boediyana, Ketua Umum PPSKI, kebijakan yang menunjuk Bulog sebagai pengimpor seperti dilaksanakan pada 2017 lalu terbukti lebih banyak membawa kerugian ketimbang manfaat bagi peternak rakyat.

Dikatakan Teguh, apabila pemerintah menganggap harga daging sapi lokal terlalu mahal pihak yang seharusnya dipersalahkan adalah pemerintah sendiri. "Kondisi saat ini terjadi akibat kegagalan pemerintah mewujudkan swasembada daging sapi mulai era Pemerintahan Presiden SBY. Yakni Program Swasembada Daging Sapi 2010 dan dilanjut Program Swasembada Daging Sapi 2014".

Implikasi yang ditimbulkan kemudian adalah dipenuhinya kebutuhan sapi potong sebanyak 50% (setara dengan 250 ribu ton dari impor). Teguh menjelaskan, dengan diimpornya sapi potong dari luar negeri seperti Australia, akan memengaruhi harga jual dalam negeri karena sangat bergantung dengan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar dan harga daging sapi dunia saat transaksi dilakukan. Ia pun meyakini, apabila nilai tukar Rupiah dapat ditekan hingga di bawah Rp 12 ribu per Dolar Amerika, maka harga daging sapi dengan sendirinya akan berada di bawah Rp 80 ribu per kg.

Teguh juga mengkritisi efektivitas pengelolaan APBN yang berjumlah lebih dari Rp 18 Triliun yang selama ini dialokasikan untuk program swasembada daging yang tak kunjung tercapai. Sebab itu, ia menganggap, sangat tidak adil apabila kegagalan pemerintah saat ini dalam mengatasi harga daging ditimpakan kepada peternak sapi dan kerbau lokal dengan mengimpor daging murah. Ditambah, kebijakan impor daging ruminansia dari negara atau zona yang belum bebas Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) bertentangan dengan Putusan Mahkamah Konstitusi.

Masih menurut Teguh, pemerintah juga harus adil dalam soal impor ini. "Apabila kebijakan impor daging kerbau dengan alasan harga murah, maka kebijakan tersebut harus diterapkan pula untuk komoditas pertanian lain seperti beras, jagung dan lainnya yang harganya lebih murah dibandingkan dengan produksi dalam negeri," selorohnya.

Sebab itu, pihaknya menghimbau kepada pemerintah untuk meninjau ulang rencana pemasukan daging kerbau asal India yang dirasa mendistorsi peternakan sapi lokal. "Dipastikan pula bahwa kebijakan impor daging kerbau yang dianggap murah ini sangat kontradiktif dengan target swasembada daging sapi yang dicanangkan akan dicapai di tahun 2024," pungkasnya. (WK)

 

Ruang Iklan

Kurs IDR

Kurs Jual Beli
sumber: KlikBCA.com

Sentra Download ASOHI

Calculator

more...

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday238
mod_vvisit_counterYesterday275
mod_vvisit_counterThis week1950
mod_vvisit_counterThis month4663
mod_vvisit_counterAll1907868