PPUN BAHAS AGP DAN ANCAMAN DAGING AYAM IMPOR PDF Print E-mail
Written by sekretariat   
Friday, 23 March 2018 15:49

BOGOR, 25 Januari 2018. Peternak ayam kembali bersuara pasca pelarangan Antibiotic Growth Promoters (AGP) pada pakan yang telah diberlakukan awal Januari 2018. Mereka mengaku mengalami penurunan produksi pada akhir bulan ini. "Penurunan ini sudah terlihat pada minggu ini, ayamnya tidak tumbuh maksimal," ujar Kadma Wijaya, peternak yang juga merupakan Ketua Panitia Sarasehan Peternak Unggas Nusantara di Bogor (25/1).

Adanya aturan pelarangan AGP ini, bagaikan buah simalakama di mata peternak. Kadma Wijaya mengungkapkan, dengan adanya pelarangan AGP ini otomatis biaya produksi akan membengkak dan memberatkan peternak. "Sejujurnya kami juga menginginkan produk unggas yang aman, namun apa daya jika harga pakan naik, kita para peternak juga yang rugi dengan adanya kebijakan ini," ungkapnya.

Berbeda dengan Kadma, Dirjen PKH, I Ketut Diarmita, dalam sambutannya mengatakan bahwa kebijakan pelarangan AGP ini demi terwujudnya pangan yang aman dan sehat. "Kita juga ingin bangsa kita dihargai oleh bangsa lain, jika produk kita aman, tentu produk kita juga dilirik oleh negara lain," ujarnya.

Selain itu pasca kekalahan Indonesia di sidang World Trade Organization (WTO) di Geneva, Indonesia kini terancam banjir ayam Impor. Sebelumnya Indonesia mengajukan banding atas perselisihan dengan Amerika Serikat dan Selandia Baru mengenai pembatasan impor makanan dan hewan termasuk daging sapi dan unggas.

Pemerintah Indonesia berpendapat bahwa pembatasan impor ini didasarkan pada masalah kesehatan dan standar makanan halal, dan juga ditujukan untuk mengatasi surplus sementara di pasar domestik. Pada Desember 2016, sebuah panel adjudicator memandang aturan Indonesia terlalu mengekang dan menyatakan bahwa pengetatan impor 18 produk pertanian yang dilakukan Indonesia untuk melindungi petani dan peternak lokal dinilai melanggar perjanjian dagang internasional, dan tidak konsisten dengan perjanjian General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) 1994.

Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag), Oke Nurwan, mengatakan bahwa pemerintah akan mempelajari keputusan tersebut sebelum mengurangi pembatasan, yang mencakup produk seperti apel, anggur, kentang, bawang merah, bunga, jus, buah kering, sapi, ayam dan daging sapi. Kondisi ini tentu mengancam keberlangsungan industri peternakan ayam di Indonesia yang dapat hancur akibat serbuan produk impor. (WK)

 

Ruang Iklan

Kurs IDR

Kurs Jual Beli
sumber: KlikBCA.com

Sentra Download ASOHI

Calculator

more...

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday41
mod_vvisit_counterYesterday235
mod_vvisit_counterThis week1238
mod_vvisit_counterThis month4191
mod_vvisit_counterAll1907396