Bengkulu Masih "Impor" Telur Print
Provinsi Bengkulu hingga kini belum bisa swasembada telur. Maka, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sebagian besar telur masih didatangkan dari luar daerah.
   
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatah Hewan (Disnakeswan) Provinsi Bengkulu, Irianto Abdullah ketika dikonfirmasi, Senin (6/7), menjelaskan, sebagian kebutuhan telur bagi masyarakat Bengkulu masih mengandalkan pasokan dari Padang, Sumatera Barat, dan Medan, Sumatera Utara. "Karena kebutuhan telur kita masih mengandalkan pasokan dari Medan dan Padang, jadi ketersediaan stok juga tergantung kelancaran pengiriman dari dua daerah itu," katanya.
    
Menurut dia, kebutuhan telur sekitar 600 ton per bulan,  dari jumlah kebutuhan itu hanya 63 ton produksi peternak lokal, sisanya mengandalkan pasokan dari Padang dan Sumbar.
    
Ia menjelaskan, produksi telur Bengkulu rata-rata 2.622 ton per tahun, terdiri dari 1.323 ton telur ayam buras, 317,2 ton ayam petelur, dan 982 ton telur itik. Sedangkan konsumsi telur masyarakat Bengkulu 5.421 ton per tahun.
    
Ia mengatakan, usaha peternakan di Bengkulu belum ada yang berskala besar atau hanya dalam bentuk usaha menengah ke bawah yang dikelola kelompok dan individu.
    
Ada beberapa kendala yang dihadapi para peternak setempat, di antaranya sulit mendapatkan pakan. Jika pun ada, harga pakan relatif lebih mahal.
    
Para peternak ayam (petelur) harus mendatangkan pakan dari luar daerah sehingga harganya relatif lebih mahal, dan tidak sesuai dengan hasil produksi.
    
Disnakeswan terus berupaya membangkitkan usaha ternak ayam petelur dengan cara memberikan pinjaman modal.
    
Bengkulu sangat potensial bagi pengembangan usaha peternakan ayam petelur, karena selain masih banyak lahan yang kosong juga pakan ternak seperti jagung, ikan, dan dedak cukup tersedia.

Sumber: www.kompas.com
Last Updated on Wednesday, 15 July 2009 11:18