BOGOR, Kamis 12 Juni 2025. PT Ceva Animal Health Indonesia kembali menggelar acara tahunan, Chick Day 2025, dengan mengusung tema “Unlocking New Dimension in Poultry Health: Innovation Through Integrated Solutions”. Tahun ini Chick Day kembali, dengan fokus pada isu penyakit pernapasan unggas dan menghadirkan perspektif dari berbagai narasumber ahli dalam negeri maupun global.
Sebagai pembuka, Presiden Direktur PT Ceva Animal Health Indonesia, drh. Edy Purwoko, menegaskan komitmen Ceva dalam menghadirkan solusi menyeluruh dan berbasis inovasi untuk mendukung produktivitas broiler di Indonesia, khususnya dalam hal kesehatan unggas.
“Mari kita semua berharap bahwa situasi dan bisnis perbroileran di sisa tahun ini masih bisa jauh lebih baik lagi sehingga kita bisa menikmati hasil yang baik untuk broiler di 2025,” sambut Edy sekaligus membuka acara.
Isu kesehatan unggas nasional saat ini memang sedang disibukkan dengan infeksi penyakit saluran pernapasan atau respiratory disease, terutama karena kompleksitas patogennya yang kerap bersifat multi infeksi. Profesor Mikrobiologi di FKH UGM, Prof. drh. Michael Haryadi Wibowo, mengungkapkan bahwa berdasarkan data lapangan, beberapa penyakit respirasi yang sering ditemukan yaitu Infectious Bronchitis (IB), Chronic Respiratory Disease (CRD), CRD Complex (kombinasi antara Mycoplasma, E. coli, IBV), Avian Pathogenic E. coli (APEC), dan Newcastle Disease (ND) yang masih muncul pada broiler.
Kombinasi patogen dalam satu kasus yang dikenal sebagai CRD Complex dapat memperburuk kondisi ayam dengan menimbulkan kerusakan pada sistem pernapasan bagian atas hingga bawah, seperti air sac, hati, dan jantung, yang ditandai dengan perihepatitis, perikarditis, dan airsacculitis.
Hal senada disampaikan oleh drh. Dedi Nur Aripin, Veterinary Service Manager PT Ceva Animal Health Indonesia. Dirinya beranggapan bahwa koinfeksi pernapasan pada ayam broiler merupakan tantangan utama yang saat ini dihadapi peternakan unggas di Indonesia. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh tim Ceva bersama University of Toulouse, ditemukan bahwa seluruh sampel broiler dengan gejala respirasi terdeteksi positif IBV, dengan mayoritas merupakan varian QX, salah satu varian IBV yang sangat patogenik dan menular.
Strategi pengendalian yang efektif menurutnya harus mencakup penerapan vaksinasi yang konsisten dan kolektif antar peternak, peningkatan biosekuriti, serta diagnosis dini dalam lima hari pertama munculnya gejala. Sedangkan menurut Prof. Michael, deteksi dini dan manajemen yang baik adalah kunci dalam pengendalian penyakit respirasi.
Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari Prof. Mattia Cecchinato, selaku Professor University of Padova dari Italia, serta Jean Leorat selaku Corporate Poultry Veterinary Service Manager, Ceva Sante Animale. Setelah semua materi selesai, acara ditutup dengan kegiatan diskusi interaktif dan engagement dinner bersama para peserta seminar. (PI)

