JAKARTA, Kamis 15 Januari 2026. Peternakan unggas modern kini tidak hanya dihadapkan pada tuntutan efisiensi produksi, tetapi juga pada kewajiban memenuhi aspek keberlanjutan dan tanggung jawab lingkungan. Tekanan pasar global mendorong peternak semakin memperhitungkan sumber pakan, jejak karbon produksi, serta konsistensi bahan baku dalam menghasilkan daging ayam dan telur.
Isu tersebut menjadi latar utama seminar internasional bertajuk ‘Understanding U.S. Soy Quality’ yang digelar The Northern Soy Marketing (NSM) dengan dukungan U.S. Soybean Export Council (USSEC). Kegiatan yang telah berlangsung secara rutin sejak 2023 ini kembali diselenggarakan pada Kamis (15/1) di Sheraton Grand Jakarta Gandaria City Hotel.
Mewakili perspektif sistem produksi peternakan, USSEC’s Regional Representative for Australia and New Zealand sekaligus Adjunct Professor University of New England, Australia, Robert Middendorf, menggarisbawahi bahwa keberlanjutan peternakan unggas tidak dapat dipisahkan dari kualitas serta asal pakan ternak. Ia menilai pakan sebagai komponen biaya terbesar sekaligus faktor penentu jejak lingkungan produk unggas.
Lebih lanjut, Robert memaparkan bahwa sistem produksi kedelai di Amerika Serikat didukung teknologi pertanian presisi serta protokol keberlanjutan yang terverifikasi melalui U.S. Soy Sustainability Assurance Protocol (SSAP). Skema tersebut dinilai membuka peluang bagi peternak unggas untuk mengaitkan klaim keberlanjutan pakan dengan produk ternak yang dihasilkan.
Apabila keberlanjutan menjadi kerangka besar peternakan unggas masa depan, maka kualitas pakan berperan sebagai pintu masuk utama dalam penerapannya. Pada titik inilah, pembahasan mengenai bungkil kedelai sebagai sumber protein nabati utama pakan unggas menjadi krusial.
Dari sudut pandang pengguna akhir pakan, Prof. Bob Swick, Professor Poultry Hub Australia, menegaskan bahwa bungkil kedelai merupakan komponen paling dominan dalam ransum unggas. Ia mengungkapkan bahwa sekitar 60 % asam amino tercerna dalam pakan ayam pedaging bersumber dari bahan tersebut.
“Bungkil kedelai bukan sekadar penyedia protein, tetapi juga menyumbang energi metabolis bagi unggas,” ungkap Prof. Bob. Ia menilai kualitas bungkil kedelai sangat menentukan efisiensi pakan dan performa pertumbuhan ayam. (TR)

