HIPRA DORONG IMUNITAS SEJAK DINI HADAPI ANCAMAN IBD

TANGERANG, Rabu 8 April 2026. Ancaman Infectious Bursal Disease (IBD) yang terus berkembang mendorong pelaku industri perunggasan untuk memperkuat strategi pengendalian sejak fase paling awal kehidupan ayam. Perubahan karakter virus yang semakin kompleks membuat pendekatan konvensional dinilai tidak lagi memadai, sehingga diperlukan langkah yang lebih adaptif dan berbasis sains. Fokus pada pembentukan imunitas sejak dini pun menjadi perhatian utama dalam menjaga performa unggas secara berkelanjutan.

Isu ini mengemuka dalam HIPRA Poultry Immunology Class (HPIC) Gumboro 2026 yang digelar oleh PT HIPRA Indonesia di Episode Hotel, Gading Serpong, Tangerang. Forum tersebut menghadirkan akademisi, praktisi, dan pelaku usaha untuk berbagi wawasan serta pengalaman lapangan terkait evolusi virus IBD.

Regional Manager HIPRA Asia & Oceania, Peter O. Martinez, membuka diskusi dengan menggambarkan perubahan besar dalam industri perunggasan modern. Ia mengaitkan tuntutan efisiensi produksi dengan meningkatnya risiko biologis yang harus dihadapi pelaku usaha. “Gangguan kecil pada fase awal bisa berdampak panjang terhadap performa ayam,” ucapnya.

Dalam pandangannya, pengendalian IBD tidak lagi cukup dilakukan secara reaktif. Ia menilai pendekatan preventif berbasis imunologi menjadi kunci untuk menghadapi evolusi virus yang terus berlangsung. Pembangunan imunitas sejak hatchery, lanjutnya, merupakan titik strategis yang harus dimanfaatkan secara optimal oleh industri.

Country Head HIPRA Indonesia, Irfan Wahyu Wijaya, melanjutkan dengan menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung perkembangan industri perunggasan nasional. Ia menyampaikan bahwa forum ilmiah seperti HPIC menjadi sarana penting untuk mempertemukan berbagai perspektif dalam satu ruang diskusi. “Kami ingin terus berkontribusi dalam kemajuan dunia poultry melalui kolaborasi seperti ini,” ujarnya.

Guru Besar Universitas Gadjah Mada, Prof Michael Hariyadi Wibowo, membuka materi dengan mengulas perjalanan panjang penyakit Gumboro di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa virus ini memiliki karakter RNA yang mudah mengalami mutasi, sehingga perkembangan strain baru menjadi tantangan yang terus berulang. “Kemunculan varian baru adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari,” ungkapnya.

Regional Technical Manager HIPRA Asia & Oceania, Myeong Seob (Allen) Kim, mengajak peserta melihat perkembangan IBD dari perspektif global. Ia memaparkan bahwa sejak 2020, genotipe baru telah terdeteksi di berbagai negara, termasuk kawasan Asia Tenggara. “Perkembangan ini menjadi sinyal bagi kita untuk meningkatkan kewaspadaan,” sebutnya.

Ia kemudian memperkenalkan pendekatan vaksinasi berbasis hatchery sebagai strategi perlindungan yang lebih dini. Ia berpandangan, teknologi imunokompleks memungkinkan vaksin tetap efektif meski terdapat antibodi maternal. Pendekatan ini dinilai mampu memberikan perlindungan yang lebih konsisten di lapangan.

Allen juga menjelaskan konsep competitive exclusion sebagai bagian dari strategi tersebut. Ia menggambarkan bahwa ketika virus vaksin lebih dulu mengkolonisasi bursa, virus lapangan akan kesulitan berkembang. Pendekatan ini dianggap relevan dalam menghadapi tekanan infeksi yang tinggi di berbagai wilayah produksi. (TR)

Scroll to Top