JAKARTA, Kamis 15 Januari 2026. Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHPI) dan Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) menggelar rapat koordinasi guna memperkuat kolaborasi strategis dalam menghadapi tantangan sektor perunggasan nasional, khususnya terkait kesehatan hewan, keamanan pangan, dan isu Resistensi Antimikroba (Antimicrobial Resistance/AMR).
Rapat tersebut dihadiri oleh jajaran pengurus kedua organisasi, antara lain Ketua Umum ASOHI Drh A Harris Priyadi, Wakil Ketua ASOHI Drh Almasdi Rahman, Ketua Umum ADHPI Drh Dalmi Triyono, Sekretaris Jenderal ADHPI Drh Erry Setyawan, Ketua I ADHPI Drh Bimo Wicaksono, Bendahara ADHPI Drh Shinta Rizanti Binol yang kebetulan juga menjabat sebagai Wakil Ketua Antar Lembaga Bidang AMR ASOHI.
Dalam pertemuan tersebut, Ketua Umum ADHPI Dalmi Triyono memperkenalkan ADHPI sebagai organisasi yang beranggotakan dokter hewan yang berfokus pada bidang perunggasan. ADHPI juga aktif dalam kegiatan ilmiah dan profesional, serta telah menjadi anggota World Veterinary Poultry Association (WVPA).
Sekretaris Jenderal ADHPI Drh Erry Setyawan menyampaikan bahwa ADHPI dan ASOHI memiliki potensi besar untuk berkolaborasi dalam berbagai kegiatan strategis. Salah satu agenda besar yang akan dilaksanakan pada tahun 2026 adalah International Conference 100th Newcastle Disease (ND) yang akan digelar bersamaan dengan pameran ILDEX pada September 2026 selama tiga hari. Konferensi ini menjadi momentum penting mengingat Newcastle Disease pertama kali ditemukan pada tahun 1926 di Bogor, Indonesia. Kegiatan ilmiah tersebut akan mengangkat topik ND, food safety, food security, serta ketahanan dan keamanan pangan.
Ketua Umum ASOHI Drh Harris Priyadi menegaskan bahwa ASOHI dan ADHPI memiliki irisan kepentingan yang kuat dalam mendukung industri perunggasan nasional. ASOHI, lanjutnya, siap menyambungkan ADHPI dengan Masyarakat Ilmu Perunggasan Indonesia (MIPI) untuk memperluas jejaring kolaborasi. Selain itu, ASOHI bersama Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) juga tengah bekerja sama dalam menyelesaikan kekosongan regulasi obat hewan, terutama untuk hewan kesayangan dan satwa liar.
Dalam kesempatan tersebut, Harris juga menyampaikan bahwa ASOHI sedang mencari mitra kolaborasi untuk kegiatan edukasi terkait pelarangan penggunaan obat-obatan tertentu beserta solusi atau alternatif penggantinya, yang dinilai dapat dikerjasamakan dengan ADHPI. Edukasi penggunaan obat hewan yang tepat kepada masyarakat menjadi salah satu fokus utama ASOHI dalam mendukung kebijakan pemerintah.
Isu AMR menjadi perhatian khusus dalam rapat ini. Disampaikan bahwa di sektor perunggasan, penggunaan antibiotik golongan quinolone hanya diperbolehkan hingga Juli 2026. Kondisi ini menuntut adanya perubahan tata laksana dan strategi pengendalian penyakit apabila obat-obatan tertentu tidak lagi dapat digunakan. Tantangan lain yang disoroti adalah tingginya bunga pinjaman perbankan bagi peternak, yang berdampak pada keberlanjutan usaha.
ASOHI juga menegaskan perannya dalam membantu pemerintah melaksanakan pengawasan obat hewan, serta komitmennya untuk mendukung kolaborasi kegiatan dengan ADHPI. Pelaksanaan kegiatan kolaboratif akan dikoordinasikan oleh ASOHI Pusat, meskipun pelaksanaannya dapat dilakukan di daerah.
Sebagai tindak lanjut, Ketua Umum ASOHI mengarahkan agar segera dilakukan pertemuan teknis antarbidang untuk mematangkan rencana kolaborasi. Dua kegiatan terdekat yang akan menjadi fokus kerja sama adalah Pelatihan Peresepan Populatif dan International Conference 100th Newcastle Disease.
Kolaborasi ADHPI dan ASOHI diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan kesehatan unggas, pengendalian AMR, serta penguatan ketahanan dan keamanan pangan nasional. (WK)

