TANGERANG, Rabu 17 Juni 2026. Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) memanfaatkan momentum pameran internasional Indo Livestock 2026 Expo & Forum untuk menyuarakan aspirasi strategis demi mendongkrak daya saing peternakan nasional. Dalam perhelatan ke-19 yang berlangsung di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang ini, stan ASOHI (Booth No. 140) menerima kunjungan kehormatan dari Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian, Drh. Agung Suganda, M.Si., bersama Direktur Kesehatan Hewan, Drh. Hendra Wibawa, M.Si., Ph.D., pada hari kedua pameran.
Kunjungan pejabat tinggi Kementerian Pertanian tersebut diterima langsung oleh Ir. Teddy Candinegara (Ketua Dewan Kode Etik ASOHI), drh. Almasdi Rahman (Wakil Ketua Umum ASOHI), Prof. Dr. Ir. Muladno, MSA (Anggota Dewan Pakar ASOHI), serta drh. Djatmiko (Ketua ASOHI Daerah Sulawesi Tengah). Pertemuan ini menjadi panggung dialog penting bagi ASOHI dalam menyampaikan sejumlah poin krusial terkait regulasi dan masa depan industri obat hewan di Indonesia. Dalam diskusi yang berlangsung hangat tersebut, ASOHI menyoroti tiga isu utama yang dihadapi oleh para pelaku industri obat hewan saat ini.
Percepatan Proses Registrasi Obat Hewan. ASOHI mengharapkan adanya reformasi waktu dalam proses registrasi obat hewan agar dapat diselesaikan dalam rentang waktu 2-6 bulan. Hal ini dinilai sangat mendesak mengingat pesatnya perkembangan teknologi dan inovasi obat hewan global. Keterlambatan adopsi inovasi ini di dalam negeri berpotensi menurunkan daya saing peternakan nasional, memicu ketidakefisienan biaya produksi, hingga menambah beban biaya bagi konsumen.
Merespons hal tersebut, Dirjen PKH Drh. Agung Suganda menjelaskan bahwa kendala utama lamanya proses selama ini adalah banyaknya dokumen pendaftaran yang belum lengkap. Pemerintah pun meminta ASOHI mengambil peran aktif melakukan verifikasi awal (pre-screening) dokumen sebelum diajukan, guna mengurai penumpukan berkas di Direktorat Kesehatan Hewan.
Pengaturan Perdagangan Obat Hewan di Marketplace (Online). Menjamurnya platform penjualan digital mendorong ASOHI mendesak pemerintah untuk menata regulasi perdagangan obat hewan secara daring. ASOHI menegaskan perlunya aturan ketat untuk mencegah peredaran obat hewan ilegal yang tidak memiliki nomor registrasi resmi, serta memberantas praktik penjualan tanpa persetujuan pemegang izin edar atau pemilik merek yang sah. Regulasi yang jelas diharapkan dapat melindungi konsumen dan menjaga iklim usaha yang sehat.
Penguatan Kerja Sama dengan Pemangku Kepentingan. Pemerintah mengapresiasi dan meminta ASOHI untuk terus memperluas kolaborasi di sektor peternakan. Salah satu contoh konkret yang dipuji adalah sinergi ASOHI dengan Alumni Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) yang digagas oleh Prof. Muladno. Lewat kerja sama ini, ASOHI aktif memberikan edukasi, panduan, dan berbagi pengalaman kepada peternak rakyat agar mampu mengelola usaha yang sehat, berkelanjutan, serta tangguh menghadapi tantangan ekonomi makro.
Komitmen Bersama untuk Industri Nasional. Melalui dialog strategis di Indo Livestock 2026 ini, ASOHI menegaskan komitmennya untuk membantu memverifikasi kelayakan dokumen anggotanya demi mempercepat evaluasi berkas oleh pemerintah.
Di tengah megahnya pameran yang diikuti oleh 600 peserta dari 30 negara tersebut, langkah proaktif ASOHI ini diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat efisiensi produksi, ketahanan pangan, dan posisi Indonesia dalam ekosistem industri peternakan global. (WK)

