TANGERANG SELATAN, 22-23 Juli 2026. Di balik sepotong daging ayam atau sebutir telur yang tersaji di meja makan, terdapat mata rantai panjang yang sering luput dari perhatian. Sebelum ayam dipelihara peternak, sebelum pakan diberikan, bahkan sebelum kandang dipenuhi anak ayam, semuanya bermula dari satu sektor yang menjadi fondasi industri perunggasan, yakni pembibitan. Dari sektor inilah kualitas genetik, produktivitas, efisiensi, hingga keberlanjutan industri ditentukan.
Kesadaran akan pentingnya peran tersebut menjadi benang merah Kongres ke-14 Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) yang diselenggarakan di DoubleTree by Hilton Bintaro Jaya. Mengusung tema “Pembibitan Sebagai Arsitek Industri Perunggasan Nasional”, forum empat tahunan ini menjadi momentum bagi pelaku industri untuk menegaskan kembali bahwa kekuatan sektor hulu merupakan kunci dalam menjaga ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan daya saing industri unggas Indonesia di tengah perubahan ekonomi global.
Dalam seminar tersebut, berbagai isu strategis dibahas secara komprehensif, mulai dari dinamika ekonomi global, perkembangan teknologi pembibitan, digitalisasi sistem breeding, penguatan biosekuriti, hingga arah kebijakan pemerintah dalam membangun industri perunggasan yang lebih modern dan berkelanjutan.
Momentum kongres tahun ini juga menjadi penanda perjalanan panjang organisasi melalui peluncuran buku “Dari Hulu untuk Ketahanan Pangan: Perjalanan 55 Tahun GPPU dalam Membangun Keberlanjutan Industri Perunggasan Indonesia”. Buku tersebut merekam sejarah GPPU sejak berdiri pada 20 Desember 1970, sekaligus menjadi dokumentasi perjalanan industri pembibitan nasional selama lebih dari lima dekade.
Suasana kongres mencapai puncaknya ketika kepengurusan GPPU periode 2026-2030 resmi dikukuhkan oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Drh Agung Suganda. Melalui mekanisme musyawarah mufakat, peserta kongres mempercayakan kelanjutan kepemimpinan organisasi kepada Drh Asrokh Nawawi sebagai Ketua Umum GPPU periode 2026-2030.
Dalam sambutan perdananya, ia menyadari bahwa estafet kepemimpinan yang diterimanya datang pada saat industri menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perubahan iklim usaha, dinamika ekonomi global, hingga tuntutan peningkatan efisiensi akan menjadi pekerjaan besar yang harus dijawab bersama. Karena itu, ia mengajak seluruh anggota GPPU memperkuat soliditas organisasi sekaligus mempererat kolaborasi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan industri.
“Kami akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan. Insyaallah, melalui kebersamaan, kolaborasi, dan kemampuan beradaptasi terhadap berbagai dinamika yang ada, industri perunggasan nasional akan terus tumbuh dan berkembang,” katanya. (CR)

