ASOHI JADI NARASUMBER POULTRY INDONESIA FORUM KE-22 PDF Print E-mail
Written by sekretariat   
Saturday, 25 December 2021 12:39
JAKARTA, Sabtu 11 Desember 2021. Ditengah ketidakpastian selama awal tahun 2021, menjelang akhir tahun terlihat secercah harapan dimana angka kasus harian dan tingkat kematian akibat Covid-19 mulai terkendali. Kegiatan masyarakat mulai kembali pulih namun tetap diiringi dengan kewaspadaan terhadap gelombang selanjutnya dari Covid-19. Sedikit banyaknya, industri perunggasan juga ikut terdampak dari setiap kebijakan untuk penanganan Covid-19. Berangkat dari hal tersebut, Poultry Indonesia menyelenggarakan Poultry Indonesia Forum seri ke-22 dengan tema “Arah Masa Depan Industri Perunggasan” yang dilaksanakan secara daring via aplikasi Zoom.
 
Rofi selaku Sub Koordinator Produksi Unggas Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia, membeberkan bahwa pemerintah masih terus berupaya menjaga stabilisasi supply demand ayam ras serta mengatur pengendalian produksi.
 
Sementara itu, Ir. Achmad Dawami selaku Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), memberikan keterangan mengenai kondisi perunggasan di tahun 2021. “Tingginya populasi FS (Final Stock) akibat jumlah impor GPS (Grand Parent Stock). Potensi awal kelebihan supply DOC tahun 2021 yaitu sebesar 758 juta ekor setara dengan 835.872 ton karkas. Adapun dengan adanya SE pemerintah, dilakukannya cutting HE sebanyak 700 juta butir lebih dan penyerapan livebird sebanyak 75 juta ekor lebih,” terang Dawami.
 
Lebih lanjut, Hudian Pramudyasunu selaku Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), mengatakan bahwa tantangan industri pakan adalah keterbatasan lahan untuk pertanian dan peternakan. Kemudian, tingginya biaya pengangkutan bahan baku ke pabrik pakan juga menjadi masalah bagi industri pakan Indonesia. Oleh karena itu, bahan pakan yang diproduksi di dalam negeri, harus diproduksi berdekatan dengan pabrik pakan untuk memudahkan transportasi dan dapat menekan biaya.
 
Sementara itu Drh. Andi Wijanarko selaku Wakil Ketua 2 Asosiasi Obat Hewan Indonesia, menjelaskan bahwa ASOHI berperan aktif dalam mengawal, memberi masukan, dan monitor pelaksanaan kebijakan pemerintah. Dalam paparannya, Andi mengatakan bahwa pertumbuhan obat hewan di tahun 2022 cenderung stabil.
 
“Pertumbuhan obat hewan secara umum diprediksikan akan mengalami stagnasi. Khususnya di segmen perunggasan akan mengikuti kondisi di sektor DOC & pakan unggas,” jelas Andi. (PI)
 

Ruang Iklan

Kurs IDR

Kurs Jual Beli
sumber: KlikBCA.com

Sentra Download ASOHI

Calculator

more...

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1693
mod_vvisit_counterYesterday2150
mod_vvisit_counterThis week7906
mod_vvisit_counterThis month42328
mod_vvisit_counterAll3958110