KEMENTAN PERKUAT PENGENDALIAN FLU BURUNG DI HILIR

BOGOR, Rabu, 7 Mei 2025.Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan komitmennya untuk memperkuat sistem kesehatan hewan nasional termasuk dengan mengadopsi pendekatan One Health. Setelah sukses menanggulangi Flu Burung di sektor hulu dengan penerapan biosekuriti peternakan on-farm dan vaksinasi yang tepat, masih ada ruang untuk perbaikan di sektor hilir mengingat volume unggas hidup yang dijual dan dipotong di pasar tradisional masih relatif tinggi.

Mitigasi risiko Flu Burung di pasar unggas hidup dan rumah potong hewan unggas (RPHU) skala kecil tidak saja meminimalkan penyebaran virus Flu Burung pada pupulasi unggas tetapi juga mitigasi risiko penularan penyakit dari unggas dan lingkungannya kepada manusia.

Direktur Kesehatan Hewan, Imron Suandy, menerangkan bahwa penanggulangan flu burung yang semakin komprehensif ini menjadi penting di tengah wabah Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) lintas benua yang melanda dunia sejak 2021.

“Bahkan Amerika Serikat mengalami dampak serius akibat wabah HPAI, tidak saja kekurangan pasokan telur secara besar-besaran, tetapi juga kasus Flu Burung pada manusia. Pasokan telur dan daging ayam anjlok, sementara permintaan tetap tinggi, sehingga harga melonjak tajam,” ujar Imron dalam sambutan daring pada diskusi yang digelar di IPB International Convention Center.

Imron menyebut, kondisi di Indonesia relatif aman dari dampak wabah HPAI lintas benua berkat kolaborasi para pemangku kepentingan dengan pendekatan public-private partnership dalam pemerapan biosekuriti on-farm, vaksinasi dan pembentukan kompartemen bebas penyakit HPAI.

“Indonesia terus melakukan pemantauan virus Avian Influenza dengan Influenza Virus Monitoring (IVM) sehingga memastikan vaksin Avian Influenza yang diizinkan beredar di Indonesia tetap dipastikan manjur melindungi populasi unggas dari ancaman virus Avian Influenza yang secara alamiah mengalami perubahan genetik serta melindungi dari ancama varian virus baru dari luar. Saat ini IVM yang sudah diterapkan lebih dari satu dekade di Indonesia menjadi best practice bagi negara-negara anggota badan kesehatan hewan dunia (WOAH),” tambahnya.

Diskusi ini merupakan bagian dari kolaborasi riset antara IPB University, Universitas Indonesia, Wageningen University, dan Utrecht University dengan dana LPDP yang mengkaji perbaikan mitigasi risiko flu burung di sektor hilir yaitu pasar unggas hidup dan RPHU skala kecil. Salah satu komponen kegiatan adalah pemberdayaan masyarakat di sektor hilir dengan membentuk Kader Kesehatan Unggas (KaderKU) untuk memperkuat penanggulangan dan peningkatan kesiapsiagaan terhadap penyakit zoonotik di semua lini.

Selain akademisi, diskusi juga menghadirkan profesional praktisi, salah satunya adalah Baskoro Tri Caroko, mewakili ADHPI (Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia), yang menekankan pentingnya menjaga pasar tradisional dan RPHU kecil sebagai simpul ketahanan pangan dan ketahanan kesehatan nasional. (WK)

Scroll to Top