JAKARTA, Senin 7 Juli 2025. Asean Animal Health Association (AAHA) mengadakan acara working lunch bersama sejumlah asosiasi peternakan dan obat hewan di Indonesia bertempat di Hotel Shangri-La, Jakarta. Acara ini menjadi forum diskusi santai namun produktif yang mempertemukan para pemangku kepentingan industri kesehatan hewan tingkat regional dan nasional.
Turut hadir dalam kegiatan ini dianyaranya adalah Mrs. Wendy – President AAHA, Mr. Alexis – Vice President AAHA. Para pimpinan AAHA wilayah Asia Tenggara dari perusahaan multinasional seperti Ceva, Elanco, MSD, Boehringer Ingelheim, Phybro, Virbac, dan Zoetis.
Dari pihak Indonesia, hadir perwakilan asosiasi antara lain ASOHI (Asosiasi Obat Hewan Indonesia) yang diwakili oleh Ketua Umum Drh. Irawati Fari, Sekretaris Jenderal Drh. Forlin Tinora, dan Wakil Waka 2 Drh. Harris Priyadi. Sementara GPMT (Gabungan Perusahaan Makanan Ternak) diwakili oleh Ketua Umum Desianto B. Utomo. GPPU (Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas) diwakili oleh Dewa Putu Sumerta dan Widarsono, serta PDHI (Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia) diwakili oleh Ketua Umum PB PDHI Dr. drh. Muhammad Munawaroh, M.M.
Pertemuan ini membahas lima topik utama yang menjadi perhatian bersama, yaitu: 1. Fasilitasi Akses Pasar, menyoroti tantangan dalam pendaftaran produk, kendala regulasi, pelaksanaan uji lapangan, serta keterbatasan kapasitas laboratorium di Indonesia; 2. Keberlanjutan Produksi Ternak, upaya mendukung ketahanan pangan nasional melalui peningkatan kesehatan hewan, produktivitas ternak, dan adaptasi terhadap perubahan iklim; 3. Pengendalian Penyakit dan Peningkatan Pengawasan, strategi kolaboratif dalam menghadapi penyakit hewan lintas batas seperti ASF, HPAI, dan PMK; 4. Peningkatan Kapasitas dan Reformasi Regulasi, dukungan industri terhadap peningkatan kapasitas dalam bidang pengujian, pelatihan sumber daya manusia, serta transformasi digital dalam regulasi; 5. Kolaborasi AAHA dan Industri Lokal, peluang membangun kepercayaan bersama dan menyusun langkah-langkah praktis yang menghasilkan dampak nyata.
AAHA secara aktif meminta masukan dari para asosiasi Indonesia terkait isu-isu tersebut, khususnya mengenai teknologi dan proses registrasi obat hewan di Indonesia. ASOHI memberikan sejumlah informasi penting mengenai kondisi terkini industri obat hewan nasional, serta menyampaikan berbagai tantangan dalam proses registrasi yang masih memerlukan percepatan.
ASOHI juga menyarankan agar AAHA dapat berbagi informasi tentang proses pendaftaran produk obat hewan di negara-negara ASEAN sebagai bahan pembanding yang dapat disampaikan kepada Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementerian Pertanian RI.
Menanggapi isu penyakit hewan strategis seperti PMK dan AI, ASOHI juga memaparkan perkembangan kasus di Indonesia dan meminta masukan dari AAHA mengenai solusi yang telah diterapkan di negara ASEAN lainnya.
Sebagai tindak lanjut dari diskusi ini, AAHA berkomitmen untuk menyusun time plan dan merancang kegiatan kolaboratif dengan ASOHI ke depannya, dengan tujuan mendukung pemerintah Indonesia serta memberikan kontribusi nyata bagi pelaku usaha dan industri obat hewan. (WK)

