PROTEIN UP, STAKEHOLDERS PERUNGGASAN BAHAS PELUANG PRODUKSI CAGE-FREE

YOGYAKARTA, Rabu 30 September 2026. Sistem produksi cage-free mulai mendapat perhatian lebih luas dari pelaku usaha perunggasan nasional. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan “Protein Up: Exploring New Opportunities in the Poultry Industry”.

Kegiatan diselenggarakan atas kerja sama berbagai pihak, di antaranya Pinsar Indonesia, Lever Foundation, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, dan Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Daerah Jogja. Forum tersebut digelar di FKH UGM sebagai bagian dari rangkaian Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) 2026.

Sejumlah produsen telur turut hadir, di antaranya Jatinom, Januputro, Megatech, dan Lourba Jaya. Kehadiran para produsen tersebut menunjukkan bahwa pembahasan mengenai cage-free mulai mendapatkan ruang lebih besar di tingkat peternak.

Penerapan cage-free bukan sekadar mengganti sistem kandang, namun menuntut kesiapan teknologi, manajemen pemeliharaan, biosekuriti, hingga strategi nutrisi. Sales Specialist Kaleter, Drh Kokot Februhadi, memaparkan sejumlah pilihan teknologi perkandangan yang dapat digunakan dalam sistem cage-free.

Perubahan sistem pemeliharaan juga membawa konsekuensi terhadap kebutuhan nutrisi. Nutritionist & Business Development Manager DMC, Drh Henri E. Prasetyo Mvet, mengatakan bahwa strategi pakan pada sistem cage-free perlu mempertimbangkan karakteristik ayam yang berbeda dibandingkan sistem kandang konvensional.

“Strategi nutrisi perlu mempertimbangkan tingkat aktivitas ayam yang lebih tinggi, kesehatan kaki dan kerabang telur, serta peluang menghasilkan telur dengan kualitas dan nilai fungsional yang lebih baik melalui pendekatan precision nutrition,” ujarnya.

Dari sisi kesehatan dan manajemen, penerapan cage-free juga membutuhkan perhatian terhadap sejumlah faktor. Guru Besar FKH UGM, Prof Dr Drh Michael Haryadi Wibowo, menyoroti pentingnya penguatan manajemen kesehatan seiring dengan meningkatnya ruang gerak ayam dalam sistem cage-free.

“Penerapan sistem tersebut perlu didukung biosekuriti yang lebih kuat, pengelolaan litter dan kotoran yang efektif, ventilasi yang baik, pengelolaan kualitas air, serta pemantauan kesehatan flock secara berkala. Dengan demikian, kebebasan bergerak dan kesempatan ayam mengekspresikan perilaku alaminya perlu berjalan beriringan dengan manajemen pemeliharaan yang baik,” jelasnya.

Masih dalam kesempatan yang sama, Ketua Bidang Promosi, Pameran, dan Kampanye Gizi PINSAR Indonesia, Ricky Bangsaratoe, menilai tema yang diangkat dalam Protein Up relevan dengan perkembangan industri perunggasan saat ini. Pembahasan dalam forum tidak hanya berkaitan dengan cage-free, tetapi juga mencakup pencegahan penyakit, manajemen pakan, efisiensi nutrisi, serta perkembangan teknologi perkandangan. (INFOASOHI)

Scroll to Top