ASOHI DUKUNG WORKSHOP PENGUATAN PENGAWASAN OBAT HEWAN NASIONAL

JAKARTA, 14-15 April 2026. Upaya memperkuat pengawasan obat hewan di Indonesia terus ditingkatkan. Direktorat Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian bekerjasama dengan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) menggelar Workshop on Strengthening Pharmacovigilance Systems in Veterinary Medicine dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor.

Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan sistem farmakovigilans (PhV), yakni sistem pemantauan keamanan dan efektivitas obat hewan, serta pengawasan terhadap produk obat hewan substandar dan palsu (SFVP). Penguatan sistem ini dinilai penting untuk menjamin kesehatan hewan, keamanan pangan, dan perlindungan kesehatan masyarakat.

Workshop diikuti oleh perwakilan pemerintah, akademisi, organisasi profesi, pelaku industri farmasi veteriner (ASOHI), serta lembaga internasional seperti WHO, FAO, dan UNEP. Pengurus ASOHI dihadiri oleh Ketua Umum Drh Akhmad Harris Priyadi dan Drh Sugiyono mewakili PT Tekad Mandiri Citra sebagai anggota ASOHI. Kolaborasi ini diharapkan mampu menghasilkan solusi konkret dalam menjawab berbagai tantangan pengawasan obat hewan di Indonesia.

Selama dua hari, peserta mendapatkan pemaparan mengenai standar internasional farmakovigilans dari WOAH, gambaran kondisi sistem di Indonesia, serta hasil survei regional. Selain itu, peserta juga terlibat dalam diskusi kelompok untuk mengidentifikasi tantangan utama, seperti rendahnya pelaporan kejadian efek samping, keterbatasan sistem data, serta belum optimalnya kerangka regulasi.

Tidak hanya itu, forum ini juga menjadi ajang merumuskan solusi bersama, termasuk penguatan regulasi, pengembangan sistem pelaporan digital terpusat, serta peningkatan kolaborasi antar lembaga dan sektor swasta.
Hasil dari workshop ini diharapkan menghasilkan rekomendasi prioritas yang dapat segera diimplementasikan, sekaligus memperkuat koordinasi nasional dalam pengawasan obat hewan. Rekomendasi tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam pengembangan kebijakan yang lebih efektif dan selaras dengan standar internasional.

Dengan adanya inisiatif ini, Indonesia diharapkan mampu membangun sistem farmakovigilans veteriner yang lebih kuat dan terintegrasi, sehingga dapat menjamin kualitas obat hewan serta mendukung upaya global dalam mengendalikan resistensi antimikroba. (WK)

Scroll to Top