MAROS, Kamis, 05 Februari 2026. Pengurus ASOHI Daerah Sulawesi Selatan melakukan kunjungan audiensi ke Balai Besar Veteriner (BBVet) Maros. Pertemuan yang berlangsung di kantor BBVet Maros, Jl. DR. Ratulangi, Kabupaten Maros ini bertujuan untuk memperkuat sinergi antara pelaku industri obat hewan dengan instansi pemerintah dalam menjaga kesehatan ternak di wilayah Sulawesi.
Dalam pertemuan tersebut, ASOHI Sulsel yang diwakili oleh Bendahara, Hermanto, serta Fachri Ashari, S.Pt (Medion) selaku perwakilan anggota, diterima langsung oleh Kepala BBVet Maros, drh. H. Agustia, M.P.
Dalam pemaparannya, drh. Agustia menyoroti kondisi di lapangan di mana rata-rata peternak sapi masih sangat bergantung pada bantuan obat-obatan, vitamin, dan vaksin dari pemerintah. Beliau menegaskan perlunya edukasi terkait peran instansi pemerintah agar tidak terjadi salah paham di tingkat peternak.
Beberapa poin penting yang disampaikan oleh Kepala BBVet Maros meliputi: Fokus Kerja BBVet Maros yang bertugas utama melakukan surveilans penyakit di wilayah kerjanya, bukan sebagai penyedia atau distributor obat-obatan massal.
Klarifikasi Pemberian Obat: Obat atau vitamin yang diberikan oleh Balai selama ini hanya diperuntukkan bagi ternak yang diambil sampelnya untuk keperluan pengujian, sehingga hal tersebut bukan merupakan bantuan distribusi rutin. Edukasi Kemandirian: Peternak sapi sangat diharapkan untuk mulai mandiri dalam penyediaan obat dan vitamin secara preventif, serta lebih proaktif dalam penanganan penyakit.
Sebagai bentuk dukungan kepada peternak, BBVet Maros berkomitmen untuk selalu merilis hasil surveilans secara berkala. Langkah ini diharapkan menjadi sistem peringatan dini (early warning system) bagi peternak untuk mengantisipasi penyakit yang berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi.
Di sisi lain, peluang bagi industri obat hewan di wilayah ini diprediksi akan meningkat tajam. Drh. Agustia mengungkapkan adanya rencana pengembangan populasi ternak yang signifikan di wilayah Sulawesi Tengah, yakni sebanyak 28.000 ekor sapi potong dan 500 ekor sapi perah.
Pertemuan ini diakhiri dengan kesepahaman bahwa sosialisasi mengenai pentingnya tindakan preventif dan pengobatan mandiri harus terus digalakkan, seiring dengan berkembangnya populasi ternak di wilayah Sulawesi. (WK)

