LANGKAH STRATEGIS ASOHI DI INTERNATIONAL HEALTHCARE WEEK 2026

BANGKOK, Thailand. Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas cakrawala dan memperkuat posisi industri kesehatan hewan nasional di kancah internasional. Langkah nyata ini dibuktikan melalui partisipasi aktif delegasi ASOHI dalam gelaran International Healthcare Week (IHW) 2026 yang berlangsung pada 8-10 Juli 2026, di Queen Sirikit National Convention Center (QSNCC), Bangkok, Thailand.

Rangkaian pameran berskala global tersebut juga mengintegrasikan beberapa ajang lainnya seperti CPHI South East Asia 2026, WHX Bangkok 2026, dan Medtec Southeast Asia 2026.
Delegasi ASOHI dipimpin langsung oleh Ketua Umum ASOHI, Drh Akhmad Harris Priyadi, yang hadir sebagai salah satu pembicara (speaker). Didampingi oleh Sekretaris Jenderal ASOHI, Rivo A. Kurnia SPt, serta Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri ASOHI, Drh Khalida Noor, yang keduanya memenuhi undangan khusus sebagai tamu VIP.

Meskipun secara umum IHW berfokus pada inovasi kesehatan manusia, kehadiran ASOHI dinilai sangat strategis dan relevan. Berbagai terobosan teknologi, pembaruan regulasi, hingga evolusi model bisnis yang dipamerkan memiliki potensi besar untuk diadopsi ke dalam sektor kesehatan hewan melalui pendekatan One Health, sebuah konsep integral yang menyadari bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling berkaitan erat.

Terdapat lima poin pembelajaran utama dari kunjungan ini yang dapat diimplementasikan untuk kemajuan industri obat hewan nasional. Pertama, penguatan manufaktur bahan baku dan rantai pasok. Kunjungan ini memberikan wawasan mendalam mengenai teknologi produksi terkini, standardisasi kualitas, dan strategi ketahanan pasokan bahan baku secara global. Hal ini penting untuk memacu kemandirian serta daya saing industri obat hewan di dalam negeri.

Kedua, harmonisasi regulasi ASEAN. Diskusi seputar penyelarasan regulasi di tingkat regional membuka peluang besar bagi produk kesehatan hewan asal Indonesia untuk memperluas penetrasi pasar dan mempermudah prosedur ekspor ke sesama negara anggota ASEAN.

Ketiga, eksplorasi industri obat alami global. ASOHI berkesempatan mempelajari perkembangan pesat fitofarmaka, herbal veteriner, probiotik, serta produk berbasis alam dari berbagai negara. Tren global yang mulai beralih ke komoditas organik ini membuka peluang emas bagi pemanfaatan kekayaan biodiversitas Indonesia untuk melahirkan inovasi produk hijau.

Keempat, implementasi AI dan diagnostik modern. Pengenalan teknologi kecerdasan buatan (AI) di sektor medis membuka jalan bagi implementasi precision farming, deteksi dini penyakit menular, serta sistem pemantauan kesehatan ternak berbasis data yang akurat.

Kelima, penanganan antimicrobial resistance (AMR). Isu resistansi antimikroba menjadi sorotan tajam. Dari pameran ini, ASOHI memperkuat urgensi penggunaan antibiotik secara lebih bijaksana pada hewan serta mendorong percepatan pengembangan vaksin, produk biologis, dan solusi alternatif non-antibiotik lainnya.

Selain itu di sela-sela pameran, tim ASOHI juga bergerak aktif membangun jejaring melalui serangkaian pertemuan bisnis dengan eksibitor maupun pengunjung internasional. ASOHI melakukan berbagai pertemuan formal dengan LPPOM MUI Indonesia guna membahas standardisasi halal produk veteriner, serta berkoordinasi dengan AHPA (Animal Health Product Association) Thailand di tingkat regional.

Guna menjajaki potensi pengembangan obat alami, ASOHI menemui ZXEO (produsen produk herbal asal China) serta Jiangxi Xuesong Natural Medicinal Oil, Co. Ltd., yang dikenal sebagai salah satu produsen produk alami terbesar di wilayah Jizhou, China Timur. Selain itu, penjajakan manajemen juga dilakukan bersama N-DIA Corporation serta PT Inspiry Indonesia Konsultan yang menawarkan kemitraan strategis di bidang pengurusan perizinan usaha, jasa forwarder, dan jalur distribusi obat hewan.

Tidak sebatas relasi bisnis, momentum ini juga dimanfaatkan sebagai bertukar informasi dan regulasi terkini bersama institusi regulatori dan asosiasi profesi. Kunjungan diplomasi ini melibatkan BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) Indonesia, GAKESLAB (Perkumpulan Organisasi Perusahaan Alat-alat Kesehatan dan Laboratorium Indonesia), serta PT Sentral Medika Indonesia selaku manufaktur diagnostik in-vitro.

Sementara di ranah internasional, tim ASOHI bertukar pikiran dengan organisasi sejawat seperti MAHNIA (Malaysian Animal Health & Nutrition Industries Association), MAVMA (Malaysian Veterinary Medical Association), hingga organisasi bioteknologi lintas negara, FABA (Federation of Asian Biotech Association) India.

Keikutsertaan ASOHI dalam International Healthcare Week 2026 menjadi langkah taktis yang sangat produktif. Melalui identifikasi peluang teknologi baru, pemahaman dinamika regulasi regional, serta eksplorasi potensi produk inovatif berbasis alam, industri kesehatan hewan Indonesia diyakini akan jauh lebih siap. Langkah visioner ini memastikan pelaku industri dalam negeri mampu menjawab tantangan global sekaligus mengamankan peluang pertumbuhan yang kompetitif, baik di tingkat ASEAN maupun dunia. (RBS)

Scroll to Top