JAKARTA, Senin 20 Juli 2026. Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat ekosistem peternakan nasional. Melalui rapat koordinasi yang diselenggarakan secara daring, jajaran pengurus ASOHI Pusat dan Daerah mematangkan rencana kolaborasi strategis bersama SASPRI (Alumni Sekolah Peternakan Rakyat/SPR).
Kerja sama ini dirancang untuk mengakselerasi pengembangan kapasitas para alumni SPR di seluruh Indonesia melalui program pendidikan, pendampingan bisnis, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat. Target pelaksanaan perdana program ini dijadwalkan mulai bergulir pada Oktober 2026.
Rapat koordinasi tersebut dihadiri langsung jajaras ASOHI di antaranya Ketua Umum Drh Akhmad Harris Priyadi, Wakil Ketua Umum Drh Almasdi Rahman, Sekretaris Jenderal Rivo A. Kurnia SPt, Wakil Sekretaris Jenderal Rezki Eko Nugroho, Ketua Dewan Kode Etik Ir Teddy Candinegara, Ketua ASOHI Daerah Jawa Timur Drh Suyud, Ketua ASOHI Daerah Jawa Barat Drh Nurvidia, serta Wakil Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga Non-Pemerintah Candra Trinugraha SPt.
Langkah kolaborasi ini mengacu pada MoU yang telah terjalin antara ASOHI dengan Institut Pertanian Bogor (IPB). Sebagai organisasi yang menghimpun alumni SPR dari berbagai wilayah di Indonesia, SASPRI memiliki peran sentral dalam mendorong potensi usaha peternakan secara kolektif.
Melalui kemitraan ini, ASOHI berbagi pengetahuan tentang bisnis dan kesehatan hewan agar para alumni SPR tidak hanya andal secara teknis budi daya, tetapi juga tumbuh menjadi peternak mandiri yang berorientasi bisnis (livestock entrepreneurs).
Adapun ruang lingkup kolaborasi mencakup empat pilar utama, yaitu pendidikan dan pelatihan; penelitian dan inovasi teknologi; pengabdian kepada masyarakat; serta penerapan teknologi kesehatan dan budi daya hewan.
Program pelatihan ini nantinya difokuskan pada pembelajaran langsung yang diprioritaskan di wilayah kerja utama SASPRI, khususnya Jawa Barat dan Jawa Timur, sebelum nantinya diperluas ke daerah lain.
Sementara fokus materi non-teknis yang dimasukkan ke dalam kurikulum antara lain kepemimpinan dan pengembangan karakter; manajemen usaha dan perencanaan bisnis; strategi pemasaran, branding, dan pengelolaan keuangan; pengembangan organisasi dan peningkatan nilai tambah produk peternakan.
Dengan pendekatan terpadu ini, program diharapkan tidak sekadar meningkatkan kemampuan beternak rutin, tetapi benar-benar membangun model bisnis yang berkelanjutan dan kompetitif. (RBS)

