DI IHW 2026, ASOHI PERDALAM KETERLIBATANNYA PADA ISU AMR

BANGKOK, Thailand, Rabu 8 Juli 2026. Delegasi Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) terus memperdalam keterlibatan strategisnya dalam tata kelola kesehatan global pada ajang International Healthcare Week (IHW) 2026 di Queen Sirikit National Convention Center (QSNCC), Bangkok, Thailand.

Tim ASOHI menghadiri seminar bertajuk “AMR in One Health: Why understanding the environmental determinants of AMR is of crucial importance?” yang diselenggarakan di Biopharma Room (Hall 2).

Seminar ini menghadirkan pembicara Managing Director dari AgPro Co., Ltd., Craige Allan, yang membedah kaitan erat antara resistansi antimikroba (Antimicrobial Resistance/AMR), tata kelola peternakan, dan dampaknya terhadap ekosistem lingkungan.

Craige menekankan dengan kuat bahwa pendekatan global dalam mengendalikan AMR harus mengalami pergeseran paradigma, yaitu dari yang semula bersifat responsif (mengobati) menjadi preventif (mencegah) melalui kerangka kerja One Health. Berdasarkan konsep ini, kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling terikat secara mutlak.

Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan antibiotik yang berlebihan dan tidak terkontrol di sektor peternakan tidak hanya berdampak pada komoditas ternak itu sendiri, melainkan dapat meluas hingga mengancam kesehatan masyarakat dan stabilitas baku mutu lingkungan. Oleh karena itu, prinsip bahwa antibiotik sebaiknya hanya digunakan untuk kasus-kasus infeksi bakteri yang telah terkonfirmasi secara klinis.

Guna memangkas ketergantungan industri peternakan terhadap antibiotik, seminar ini menawarkan peta jalan pencegahan penyakit melalui penguatan manajemen internal peternakan. Beberapa strategi utama yang wajib diimplementasikan antara lain penerapan sistem biosekuriti yang ketat dan disiplin, peningkatan standar higiene dan sanitasi, tata kelola manajemen peternakan yang modern dan adaptif, serta pemenuhan nutrisi yang optimal bagi hewan ternak.

Selain aspek manajemen, penggunaan aditif pakan (feed additives) yang mendukung imunitas dan kesehatan pencernaan hewan disorot sebagai salah satu solusi alternatif paling menjanjikan untuk meminimalkan kebutuhan obat-obatan konvensional.

Salah satu poin krusial yang juga diangkat oleh Craige adalah fakta bahwa resistansi bakteri dapat menyebar luas secara masif melalui elemen lingkungan. Jalur kontaminasi ini meliputi kotoran atau limbah ternak, debu, runoff water, tanah, hingga masuk ke dalam rantai pangan manusia.

Melihat kompleksnya jalur penyebaran tersebut, ASOHI mencatat bahwa perumusan kebijakan pengendalian AMR di masa depan tidak boleh lagi hanya berfokus di dalam area kandang. Kebijakan yang efektif harus dirancang secara menyeluruh dengan mempertimbangkan siklus pergerakan patogen dari hulu hingga ke hilir.

Melalui partisipasi di seminar ini, ASOHI berkomitmen membawa pulang pemahaman penting mengenai faktor determinan lingkungan ini guna memperkaya perumusan pedoman teknis biosekuriti dan tata kelola obat hewan di dalam negeri, demi mewujudkan industri peternakan nasional yang aman, berkelanjutan, dan berdaya saing global. (RBS)

Scroll to Top