BANGKOK, Thailand, Kamis 9 Juli 2026. Kiprah delegasi Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) dalam menggali referensi kebijakan global berlanjut pada hari kedua rangkaian International Healthcare Week (IHW) 2026 di Queen Sirikit National Convention Center (QSNCC), Bangkok, Thailand.
ASOHI kembali menghadiri seminar “ASEAN Market Readiness and Investment Opportunity: Malaysia Market Opportunity and Investment Direction” yang bertempat di Conference Room Hall 5B. Seminar tersebut menghadirkan pembicara utama Injeti Iskandar, selaku perwakilan dari Malaysian Investment Development Authority (MIDA).
Forum ini memaparkan potret keberhasilan Malaysia dalam merancang ekosistem investasi yang ramah bisnis, yang berpotensi menjadi referensi penting bagi negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.
Dalam paparannya, Injeti menjelaskan bahwa daya tarik utama Malaysia bagi investor global terletak pada efisiensi birokrasi dan kemudahan berusaha (ease of doing business). Malaysia sukses mengintegrasikan berbagai proses perizinan melalui mekanisme layanan terpadu (one-stop facilitation) yang dikawal oleh MIDA bersama Investment and Trade Joint Coordination Committee (IMFC).
Mekanisme ini menyatukan berbagai proses krusial dalam satu pintu, meliputi pengurusan perizinan usaha dan industri, administrasi keimigrasian bagi tenaga kerja ahli asing, kepabeanan dan logistik, serta penyaluran fasilitas serta insentif investasi.
Sistem ini dinilai mampu berjalan cepat berkat pemanfaatan teknologi digital di berbagai lini pelayanan, sehingga mempercepat dan menyederhanakan proses persetujuan regulasi bagi para pelaku usaha.
Selain kemudahan birokrasi, Malaysia menawarkan iklim investasi yang sangat terbuka, stabil, dan kompetitif secara regional maupun internasional. Beberapa kebijakan strategis yang ditawarkan meliputi kebijakan kepemilikan modal asing langsung hingga 100%, jaminan repatriasi keuntungan tanpa adanya pembatasan arus modal, hingga perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (Intellectual Property/IP) yang sangat kuat dan diakui secara global.
Pemerintah Malaysia juga memfokuskan pemberian insentif fiskal pada proyek-proyek yang berorientasi pada penelitian dan pengembangan (Research and Development/R&D), adopsi teknologi inovatif, serta penciptaan lapangan kerja berkeahlian tinggi yang memberikan nilai tambah ekonomi yang signifikan.
Bagi ASOHI dan lanskap industri veteriner di ASEAN, model koordinasi terintegrasi lintas kementerian yang diterapkan Malaysia memberikan perspektif yang sangat berharga.
Sektor obat hewan dan kesehatan hewan di tingkat regional kerap menghadapi kendala ego sektoral akibat perbedaan wewenang antara kementerian. Model fasilitasi satu pintu MIDA dan IMFC dapat menjadi acuan (benchmark) konkret dalam merancang harmonisasi regulasi obat hewan di tingkat regional ASEAN, sekaligus menyokong koordinasi lintas sektor yang lebih mulus dalam implementasi pendekatan One Health.
Melalui pemahaman ini, ASOHI berharap dapat mendorong para pemangku kebijakan di Indonesia untuk terus meningkatkan digitalisasi pelayanan, mempererat koordinasi lintas kementerian, serta merumuskan insentif investasi yang menarik guna membangun ketahanan industri kesehatan hewan dalam negeri yang mandiri dan berdaya saing global. (RBS)

